Wednesday, 12 February 2014

Pencabutan Gigi Susu

Gigi susu atau yang disebut juga gigi desidui merupakan gigi pertama yang dimiliki manusia.

Gigi geligi ini mulai tumbuh di usia 6 bulan dan pada umumnya sudah lengkap 20 gigi jumlahnya pada usia 3 tahun.

Rata-rata mulai usia 6 tahun, gigi tetap dewasa mulai tumbuh, geraham bawah biasanya yang terlebih dahulu tumbuh dibelakang gigi susu yang terakhir. lalu setelah itu dilanjutkan dengan gigi seri bawah dan atas. Gigi seri susu yang ada akan mulai goyang karena adanya resorpsi pada akar gigi susu (hal ini yang menyebabkan gigi susu tidak ada akarnya saat dicabut). secara alami gigi susu akan lepas dan digantikan oleh gigi tetap dewasa.

Walau secara alami gigi susu akan lepas, namun pada banyak kasus juga ada gigi tetap dewasa yang tumbuhnya tidak tepat dibawah gigi susunya, sehingga resorpsi akar gigi susu tidak sempurna dan tidak dapat lepas dengan sendirinya, jika terjadi demikian gigi tetap dewasa yang akan menggantikan bisa tumbuh pada tempat yang salah, dampak lebih jauhnya bisa terjadi penumpukan gigi atau gigi berjejal (crowding). Gigi susu yang tidak lepas saat gigi tetap dewasa tumbuh, disebut gigi yang persistensi, dan gigi ini harus dicabut segera.


Pencabutan gigi susu pada umumnya dapat dilakukan tanpa membutuhkan injeksi anestesi lokal dengan menggunakan jarum suntik. pencabutan pada gigi yang goyang dilakukan menggunakan anestesi topikal berupa gel yang dioles pada gusi kemudian dengan tang gigi anak, gigi tersebut dicabut. Pada gigi susu yang tidak goyang, menandakan akar gigi susu masih panjang, memerlukan injeksi anestesi lokal. Hal ini tentu lebih sulit dilakukan karena sebagian besar anak takut bila berhadapan dengan jarum suntik, namun dengan diberikan pengertian yang baik serta kerjasama yang baik dengan orang tua anak, maka tindakan gigi apapun tetap dapat dilakukan pada anak.

Sesudah pencabutan, anak diperintahkan untuk menggigit kassa tampon selama 15-30 menit, dilarang untuk berkumur dan meludah, dilarang memainkan luka bekas pencabutan dengan lidah atau tangan, serta makan atau minum yang panas. hal ini ditekankan agar perdarahan dapat berhenti dengan baik sehingga penyembuhan bisa terjadi.